.jpg)
Jagat maya kini tengah dihebohkan dengan resesi ekonomi yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2023. Viralnya resesi ekonomi ini bermula dari pidato presiden Jokowi pada tanggal 29 September 2022 di Jakarta Convention center, dalam agenda pengarahan kepada seluruh Menteri/Kepala Lembaga, Kepala Daerah, Pimpinan BUMN, Pangdam, Kapolda dan Kajati.
Pidato presiden Jokowi yang viral di berbagai sosial media
adalah ketika beliau menyatakan bahwa pada tahun 2023, dunia akan gelap. "Tiap
hari kita selalu diingatkan dan kalau kita baca baik di media sosial di media
cetak, di media online semuanya mengenai resesi global, tahun ini sulit dan
tahun depan sekali lagi saya sampaikan akan gelap. Dan kita tidak tahu badai
besarnya seperti apa sekuat apa tidak bisa dikalkulasi," – Presiden Jokowi.
Penggalan pidato presiden Jokowi yang viral di berbagai
sosial media, menimbulkan berbagai respon di masyarakat. Banyak masyarakat yang
masih optimis mampu menghadapi kemungkinan resesi ekonomi pada tahun 2023. Akan
tetapi tak kalah banyak juga yang mulai panik dengan pernyataan presiden Jokowi
itu.
Sebetulnya apa sih resesi ekonomi itu ? sehingga menimbulkan
respon yang cukup signifikan. Apakah betul ancaman yang ditimbulkan dari resesi
ekonomi itu sangat berbahaya ? Apakah tidak ada langkah-langkah yang bisa kita
lakukan untuk menghadapi resesi ekonomi yang mungkin saja terjadi ? lebih baik
kita mempersiapkan diri, ketimbang harus overthinking
yang malah membuat kita semakin tidak waras.
Apa itu resesi ekonomi ?

Resesi ekonomi adalah suatu kondisi yang terjadi ketika
perputaran ekonomi yang melambat atau buruk. Secara sederhana, resesi ekonomi
bisa diartikan sebagai kelesuan ekonomi. Kelesuan ekonomi ini bisa terjadi
akibat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara yang mengalami
penurunan selama dua kartal secara terus menerus.
Produk ekonomi bruto (PDB) bisa diartikan sebagai aktivitas
ekonomi dalam suatu negara selama satu periode. Jika aktivitas ekonomi dalam
suatu negara mengalami penuruan yang cukup drastis. Maka memungkinkan untuk
terjadi resesi ekonomi. Penuruan aktivitas ekonomi bisa dilihat dari banyaknya
pengangguran, produksi industri menurun dan penjualan grosir-ritel yang
menurun.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi terciptanya penurunan
aktivitas ekonomi bisa disebabkan oleh inflansi, deflasi yang berlebih, pandemi,
peperangan yang terjadi, dan faktor lainnya. Saat ini dunia baru saja akan
pulih dari kondisi pandemi yang pernah melanda. Namun, peperangan antar
Rusia-Ukraina sudah mencuat. Kedua keadaan tersebut bisa dikatakan sebagai
faktor utama terjadinya resesi ekonomi pada tahun 2023.
Jika resesi ekonomi 2023 terjadi, tentunya akan memilki
dampak yang cukup signifikan. Dampak yang akan ditimbulkan dari resesi ekonomi
diantaranya adalah pengangguran dimana-mana dan hutang negara meningkat. Dampak
yang ditimbulkan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat indonesia.
Sebetulnya masyarakat indonesia bisa sedikit bersantai dalam
menghadapi kemungkinan resesi ekonomi 2023. Karena pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada kuartal pertama tahun 2022 berada di angka 5,01%. Jika
dibandingkan dengan negara lain yang berada dibawah 5%, seperti : Singapura
3,4%, Korsel 3,1%, Jerman 4%, China 4,8%. Indonesia masih dikategorikan aman
dari resesi ekonomi.
Fakta tersebut jangan membuat kita terlena dalam menghadapi
ancaman resesi ekonomi pada tahun 2023. Meskipun Indonesia memiliki pertumbuhan
ekonomi yang cukup bagus. Namun kita harus senantiasa waspada agar selalu siap
sedia menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi. Persiapan menghadapi
“dunia gelap” harus dipersiapkan sedari sekarang.
Persiapan hadapi resesi ekonomi
Setelah kita mengetahui tentang apa itu resesi, agar lebih
matang dalam menghadapi skenario terburuk yang mungkin saja terjadi. Maka kita
perlu melakukan persiapan yang mumpuni untuk menghadapi resesi ekonomi. Persiapan
yang dilakukan tentunya akan memudahkan kita dan membuat kita sedikit tenang,
dalam menghadapi resesi. Sehingga gak perlu panik menghadapi resesi.
1. Tetap tenang
Ketenangan menjadi kunci utama bagi kita jika ingin melewati
badai ekonomi dengan aman. Selain harus memiliki persiapan yang mumpuni, faktor
psikologis kita juga harus dijaga kewarasannya. Sehingga kita tetap bisa melewati
badai dengan kondisi seperti biasa. Jangan terlalu ambil pusing dengan headline berita yang hanya menebar
kekhawatiran berlebih.
2. Lunasi hutang
Hutang akan menjadi momok yang menakutkan ketika kondisi
resesi terjadi, terlebih lagi hutang yang memilki suku bunga tinggi. Selagi
belum terjadi resesi, alangkah lebih baik jika kita segera melunasi
hutang-hutang yang kita miliki. sehingga kita jauh lebih bisa berfokus untuk
berbenah diri dan lebih fokus dalam menghadapi resesi.
Selagi kita masih memiliki pekerjaan dan income yang pasti, kita bisa memfokuskan
diri untuk segera melunasi hutang-hutang. Karena tidak menutup kemungkinan,
ketika resesi terjadi kita bisa saja kehilangan pekerjaaan yang selama ini kita
bangga dan agung-agungkan. Ingat kata pepatah menjaga jauh lebih baik daripada mengobati.
3. Tambah dana darurat
Dalam
mengatur keuangan, kita harus memiliki prinsip ataupun pedoman yang menjadi
patokan agar tidak semena-mena dalam mempergunakan uang yang kita miliki.
Prinsip yang umum digunakan dalam mengatur keuangan adalah 10-20-30-40. Pada
prinsip ini di haruskan untuk menyisihkan 10% dari pendapatan untuk kebaikan,
20% untuk dana darurat, 30% untuk cicilan produktif, dan 40% untuk kebutuhan
hidup.
Pada
kondisi yang memungkinkan terjadinya resesi, kita harus menambah prosentase
yang akan dialokasikan untuk dana darurat. Hal ini bertujuan untuk
memperpanjang masa hidup kita, ketika keuangan dari beberapa kantong pembagian
sudah habis terpakai. Kita bisa menggunakan dana darurat untuk mempertahankan
hidup hingga badai berlalu.
4. Membatasi pengeluaran
Mulai
sekarang kita harus mampu menyusun skala prioritas dalam penggunaan keuangan
kita. Sehingga kita akan jauh lebih bijak dalam mengalokasikan dana untuk
hal-hal yang sifatnya pemenuhan kebutuhan primer
atau mendesak. Lupakan sejenak, rekreasi atau hal-hal yang bersifat kepada
kebutuhan tersier.
Selama
kondisi perekonomian belum bisa dipastikan stabil atau resesi tidak terjadi,
kita harus bisa sedikit berhemat. Pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya keinginan
harus bisa kita tekan semaksimal mungkin. Nanti, ketika perekonomian dunia
sudah bisa stabil, kita bisa sedikit mengalokasikan dana kita untuk rekreasi
dan pemenuhan keingan.
5. Investasi
Investasi
selalu menjadi solusi bagi siapa saja yang ingin mencapai kondisi merdeka
secara financial. Berinvestasi juga bisa kita lakukan dalam upaya mempersiapkan
diri dari ancaman resesi ekonomi. Kita bisa mengalokasikan berapa persen dari income yang kita miliki untuk
berinvestasi. Ketika ada kemungkinan resesi,lebih disarankan untuk berinvestasi
pada aset yang sifatnya liquid.
Saat
ini kita tengah mempersiapkan keadaan bila resesi terjadi, berinvestasi pada
aset yang liquid bisa jadi pilihan utama. Karena aset-aset tersebut tidak
terdampak oleh resesi. Sehingga kita bisa mengamankan pendapatan kita.
6. Gapai kondisi financial freedom
Financial freedom adalah kondisi dimana keuangan seseorang telah mencapai pada taraf
mampu membiayai sisa hidupnya tanpa harus bekerja atau bergantung pada orang
lain. Kondisi financial freedom ini sangat didambakan oleh semua orang. Bahkan
sebelum ada berita terkait resesi muncul, semua orang tengah berlomba-lomba
untuk mencapai kondisi financial freedom.
Jika kita telah sampai pada kondisi financial freedom, tentunya tak perlu khawatir jika resesi ekonomi benar terjadi. Kita hanya perlu menjalani kehidupan seperti biasanya, karena tak perlu bergantung lagi pada pekerjaan atau orang lain selama sisa hidup kita.
0 Komentar
Apakah artikel tersebut membantu kamu?